Sinar Ronaldinho Tergerus Messi dan Dunia Malam

Ronaldinho merupakan salah satu bukti keindahan sepak bola Brasil. Segala aksinya di lapangan hijau kerap mengundang decak kagum sekaligus menyihir lawan.

Punya dribble menawan, umpan-umpan spektakuler tanpa melihat bola, serta aksi nutmeg yang kerap memperdaya lawan, jadi ciri khas tak terlepaskan Ronaldinho Gaucho.

Ronaldinho dan Messi

Ronaldinho bisa dibilang sebagai salah satu pemain terbaik dari generasinya. Penampilan impresifnya bersama Ronaldo Nazario dan Rivaldo di Piala Dunia 2002 turut melambungkan namanya.

Tendangan bebas melengkung sejauh 40 meter yang sukses memecundangi kiper timnas Inggris David Seaman, jadi momen tak mudah dilupakan banyak orang.

Sederet pengamat menyebut tendangan Ronaldinho itu tidak sengaja dan hanya sebatas keberuntungan. Namun, pria kelahiran Porto Alegre itu mengaku sudah merencanakan tendangan tersebut sejak awal.

Pada musim panas 2003, Ronaldinho pun akhirnya dipinang Barcelona dari Paris Saint-Germain. Pria yang identik dengan rambut ikal ini sukses meraih segalanya di Barcelona.

Ronaldinho mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk Blaugrana. Gerakannya yang lebih mirip tarian Samba sering kali tak terduga dan sulit dihentikan.

Lima gelar bergengsi berhasil diraih bersama Blaugrana, termasuk trofi Liga Champions 2006. Ronaldinho juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FIFA secara beruntun (2004 dan 2005).

Namun, sinar Ronaldinho mulai tergerus Lionel Messi. Pesepakbola muda jebolan La Masia yang juga pemain kesayangan Ronaldinho.

Messi promosi ke tim utama Barcelona pada 2004 di bawah asuhan Frank Rijkaard. Menariknya, Messi bisa menembus tim utama Barcelona tidak lepas dari rekomendasi Ronaldinho.

Ronaldinho benar-benar membantu Messi. Bahkan gol debut Messi bersama Barcelona ketika melawan Albacete pada 1 Mei 2005, berasal dari assist Ronaldinho.

Messi muda benar-benar mencuri perhatian. Bahkan ketika Rijkaard digantikan Pep Guardiola pada musim 2008/2009, Barcelona rela melepas Ronaldinho karena manajemen klub asal Katalonia itu percaya masa depan mereka akan cerah bersama Messi.

AC Milan jadi klub yang bersedia menampung Ronaldinho pada 2008. Kariernya di Milan tidak secemerlang kala di Barca. Ronaldinho tetap jadi pemain andalan, namun ia hanya mampu mempersembahkan trofi Serie A pada 2010-2011.

Kondisi kebugaran Ronaldinho pun mulai menurun pada musim terakhirnya di Milan. Kegemarannya berpesta jadi batu sandungan. Popularitasnya kian meredup hingga memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk membela Flamengo mulai 2011.

Aksi Ronaldinho selama dua musim di Flamengo tak lagi sama kala masih di Barcelona atau Milan. Berat badannya semakin bertambah seiring dengan kebiasaanya menggeluti dunia malam.

Ronaldinho sempat mencoba memperbaiki popularitasnya bersama Atletico Mineiro selama dua tahun (2012-2014). Namun, ia gagal mengembalikan performanya dan singgah di dua klub terakhir, Queretaro (2014) dan Fluminense (2015).

Mantan pemain terbaik dunia tersebut akhirnya memilih menghabiskan kariernya sebagai duta Barcelona hingga memutuskan gantung sepatu pada Selasa (16/1) waktu setempat.

Andai tidak ada sosok Messi di Barca dan kegemarannya berpesta, barangkali sinar Ronaldinho tak cepat meredup. Atau memang karier Ronaldinho ditakdirkan tidak sementereng dua pendahulunya di Barca: Ronaldo dan Rivaldo.

Komentar